Bertempat di Griya Ardhya Garini – Halim Perdanakusuma Jakarta, pada Selasa, 19 September 2017, PIA Ardhya Garini Pusat menyelenggarakan seminar Sosialisasi Pemantapan Kurikulum 2013 bagi jenjang  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angkasa. Dalam sambutan Ketua Umum PIA Ardhya Garini yang dibacakan oleh Wakil Ketua Umum PIA Ardhya Garini, Ny. Lia Hadiyan Sumintaatmadja, mengatakan bahwa PAUD Angkasa yang dikelola oleh Yasarini dirasa perlu untuk memahami dan menjadi lebih baik dalam melaksanakan kegiatannya sesuai Kurikulum 2013. Kurikulum yang sempat berhenti dan akhirnya dijalankan kembali pada Juli 2017 ini memiliki 4 aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Kegiatan seminar ini juga merupakan rangkaian dari peringatan HUT ke-61 PIA Ardhya Garini dan juga rangkaian upaya-upaya Yasarini untuk ikut serta dalam gerakan nasional PAUD berkualitas serta meningkatkan mutu sekolah-sekolah Angkasa khususnya PAUD.

Acara yang dihadiri lebih kurang 100 Kepala PAUD Angkasa dan Guru dari 5 (lima) utusan kota, yaitu Jakarta (Halim Perdanakusuma), Bogor (Atang Sandjaja), Bandung (Sulaiman), Tasikmalaya (Wiriadinata) dan Subang (Suryadarma) menghadirkan 3 Pembicara Utama yang terkait dengan materi pembinaan PAUD, kesehatan kejiwaan anak usia dini hingga tumbuh kembang anak.

Pada sesi pertama, Ibu R. Ella Yulaelawati R. MA., Ph.D selaku Direktur Pembinaan PAUD Kemendikbud memberikan paparan sosialisasi Kurikulum PAUD 2013. Ibu Ella pada kesempatan ini memberikan pesan menarik bagi seluruh peserta, yaitu bahwa PAUD dilarang untuk mengajarkan baca – tulis dan hitung (calistung) pada anak usia dini. Fase tumbuh kembang otak yang sangat cepat harus diisi denga hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi masa depannya. Hal lain yang menarik adalah fenomena tenaga pengajar yang didominasi perempuan, dan minimnya alat permainan yang bersifat laki-laki seperti alat bertukang, alat montir, dan lain-lain. Guru laki-laki diharapkan dapat ditambah porsinya demi memberikan keseimbangan contoh kehidupan sehari-hari menjadi laki-laki.

Dilanjutkan di sesi kedua, DR. Dr. Suzy Yusna Dewi, Sp. KJ (Konsulen Psikiatri Anak) selaku Kepala Badan Koordinasi Pendidikan RSJ Soeharto Herdjan, memberikan pentingnya konsep dasar pendidikan anak usia dini untuk menumbuhkan rasa percaya diri, mandiri dan tahap perkembangan anak menjadi baik. Sensory-system anak perlu dirangsang dan diperhatikan, hingga kesadaran bahwa guru adalah tokoh ideal anak usia dini sehingga guru harus kreatif akan menjadikan anak tumbuh jiwa dan raganya. Lingkungan sekolah yang menyenangkan dan alami akan memberikan dampak yang besar bagi pertumubuhan jiwa sang anak.

Di akhir sesi acara seminar, sebagai pembicara terakhir adalah dr Suhesti Handayani, Sp.A selaku Staf Medik Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSAU dr Esnawan Antariksa. Pada kesempatan ini, dr Suhesti menanamkan pentingnya para pendidik PAUD untuk memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Tumbuh kembang anak yang dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan dapat dipantau dengan mengamati keseluruhan fisik, jaringan otot dan lemak, rambut, gigi dan geligi, bentuk tubuh, kepala, tubuh dan anggota badan. Dengan memantau perkembangan melalui tingkat pencapaian kemampuan fungsional, seorang guru dapat menentukan kewajaran perkembangan tumbuh kembang anak usia dini.