Rangkaian kegiatan terkait pergantian Kepala Staf TNI AU (KSAU) terus bergulir, sejak Presiden Joko Widodo melantik Marsekal TNI Yuyu Sutisna sebagai KSAU menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Siangnya usai dilantik Presiden, Marsekal Yuyu sudah melakukan laporan kenaikan pangkat kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Mabes TNI, Cilangkap.

Esok harinya, Kamis, Marsekal Hadi memberikan apel khusus di Mabesau kepada seluruh pejabat yang berdinas di Mabesau, Mabes TNI, Kemhan, Lemhanas, Universitas Pertahanan, dan Aparatur Sipil Negara. Dari situ, Marsekal Hadi memberikan exit briefing yang diikuti seluruh perwira tinggi dan kolonel TNI AU di Auditorium Denma Mabesau, Cilangkap.

Maka pagi ini, Jumat (19/1/2018), telah dilakukan serah terima jabatan (sertijab) KSAU dari Marsekal TNI Hadi Tjahjanto kepada Marsekal TNI Yuyu Sutisna di taxiway echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Usai menyerahkan jabatan KSAU kepada Yuyu, dilanjutkan sambutan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Upacara sertijab pagi ini meski sederhana, tetap berlangsung meriah. Sesaat sebelum Marsekal Yuyu menandatangani surat serah terima jabatannya, melintas lima pesawat F-16 Fighting Falcon dalam formasi delta dengan ketinggian cukup rendah.

Di ujung pandangan hadirin yang masih kaget, kelima pesawat terlihat membuat formasi bomburst.

Kemeriahan lain datang dari para anggota TNI dan Polri alumni Akabri 86, yang sengaja berkumpul untuk memberikan selamat kepada Yuyu. Seperti diketahui, Marsekal Hadi dan Marsekal Yuyu sama-sama dari alumni AAU 86.

Sejak pagi sebelum upacara dimulai, keluarga besar Akabri 86 ini sudah terlihat berkumpul penuh tawa dan sesekali foto bersama.

Aksi kompak pun kembali mereka lakukan usai upacara, saat Panglima TNI dan KSAU menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan. Segenap alumni Akabri 86 melaksanakan foto bersama dengan Panglima TNI dan KSAU.

Dalam sambutannya, Panglima TNI mengatakan bahwa serah terima jabatan merupakan proses yang wajar dalam rangka pembinaan organisasi dan personel. “Untuk memelihara momentum dan dinamika organisasi, juga untuk pembinaan personel,” ujar Panglima TNI.

Lebih lanjut Hadi menekankan kepada segenap keluarga besar TNI AU, untuk senantiasa memperhatikan dinamika yang terjadi terkait potensi ancaman. Karena ancaman ke depan, menurut Hadi, bersifat asymmetricproxy, dan hybrid.

“Setidaknya potensi ancaman yang perlu dicermati ke depan antara lain, dampak tatatan dunia baru, terorisme, perang siber serta kerawanan keamanan laut di perbatasan. Tentu juga kejahatan lain yang merugikan Indonesia seperti illegal fishing, penyelundupan manusia, barang, dan narkoba,” tutur Hadi.

Karena itu, tekannya, TNI AU dituntut untuk terus bertransformai menuju TNI AU yang profesional.

Terkait alutsista, Hadi menyampaikan bahwa kondisi alutsista TNI saat ini disadari masih belum sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung operasi TNI berdasakran eksistensi ancaman nyata, ancaman potensial, dan hibrida dengan memperhatikan kondisi geografis sebagai negara kepulauan.

“Namun dengan perencanaan kekuatan TNI AU yang baik, tentunya secara bertahap akan dapat memenuhi traget MEF,” kata Panglima TNI.

Akan halnya pembangunan kekuatan TNI AU, diarahkan untuk dapat mencapai air supremacydan air superiority.

“Sasaran yang ingin dicapai adalah kekuatan pemukul udara strategis untuk menghadapi dua trouble spot dalam bentuk kekuatan komposit yang berisi pesawat tempur multirole generasi 4,5,” jelas Hadi.

Dengan kondisi seperti itu, pembangunan TNI AU diarahkan kepada kemampuan mobilisasi serta proyeksi kekuatan baik pada lingkup nasional, regional, dan global. Kekuatan pemukul udara strategis juga diperlukan untuk menghadapi dua trouble spot.

Terkait rencana strategis TNI, Hadi juga menegaskan bahwa sistem pertahanan udara kedepannya juga akan diintegrasikan dengan matra lain dalam suatu jaringan bertempur atau network centric warfare. Penggunaan pesawat tanpa awak (UAV) juga menjadi keniscayaan bagi TNI untuk saat ini dan kedepannya.

“Untuk menjawab tantangan itulah, diperlukan peran kepala staf angkatan udara dengan kinerja yang optimal,” ujar Hadi.

Terkait tahun politik 2018 dan 2019, Panglima TNI tak lupa mengingatkan seluruh prajurit TNI AU untuk bersikap netral dan memberikan bantuan kepada Polri dalam menciptakan keamanan.

“TNI harus menciptakan profil yang militan, profesional, dan rendah hati. Ini bukan retorika tapi sebuah cita-cita yang harus diraih dengan kerja keras,” ucapnya.

Usai sertijab KSAU, dilaksanakan pula sertijab Ketua Umum PIA Ardhya Garini dan Yasarini dari Ibu Nanny Hadi Tjahjanto kepada Ibu Ayu Yuyu Sutisna di Puri Ardhya Garini.

Selepas shalat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan pengukuhan Ibu Winayadati Kanyasena (Ibu Asuh Wanita Angkatan Udara  – Wara) kepada Ibu Ayu Yuyu Sutisna, sebagai penerus Ibu Nanny Hadi Tjahjanto.

Masih di Mabesau, acara dilanjutkan dengan tradisi pelepasan (passing out parade) Marsekal Hadi Tjahjanto dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto oleh seluruh personel yang berdinas di Mabesau.

Selamat bertugas Marsekal Yuyu “Lion” Sutisna.

Sumber: mylesat.com