1. Strategi pembelajaran anak dengan Gangguan pendengaran.

Gangguan Pendengaran baik ringan, sedang, berat dan sangat berat akan mengakibatkan pada ganguan komunikasi dan bahasa pada anak.
Guru dilatih untuk mengajak siswa bisa berbahasa dan komunikasi.
Gangguan ini bisa timbul sebelum anak berbahasa atau setelah anak mengenal bahasa.
Guru dilatih agar lebih memahami anak. Karena anak dengan Gangguan pendengaran cenderung ego sentris, sebab tidak mendengar sedih, marah, kecewa atau gembiranya orang lain.
Mungkin juga mereka impulsif dan kaku serta terkesan lekas marah karena merasa tidak difahami bahasa nya.
Sedangkan disisi lain mungkin ada perasaan ragu-ragu dan kuatir karena tidak tahu bagaimana mengungkapkan maksudnya sebab tidak bisa berbahasa.

2. Strategi Pembelajaran Anak dengan gangguan penglihatan.

Guru dilatih meniadakan/mengurangi hambatan belajar dan perkembangan akibat low vision.
Guru belajar memberi ketrampilan agar ABK mampu berkompetisi dengan orang lain pada umumnya.
Guru juga harus memperhatikan perkembangan motorik dan sensorisnya.
Dengan memberikan pengembangan konsep dan ketrampilan komunikasi, ketrampilan sosial, dan kemampuan menolong diri sendiri diharapkan anak dengan Gangguan Penglihatan mampu lebih percaya diri menghadapi lingkungannya.

Beberapa hal yang diperhatikan pada anak dengan Gangguan Penglihatan adalah:

  1. Memberikan kesempatan Duduk pada bangku paling depan.
  2. Guru membuatkan media yang bersifat timbul atau asli atau paling tidak mendekati aslinya.
  3. Guru berusaha mendekatkan obyek sedekat mungkin dengan mata Anak.
  4. Guru membuatkan tulisan atau gambar yang besar dengan warna yang kontras. Misalkan warna latar putih, tulisan atau gambar berwarna hitam atau biru tua. Atau sebaliknya.
  5. Kelas mengunakan penerangan yang baik, dan posisi siswa lebih dekat ke sumber cahaya.
  6. Kondisikan kontak mata langsung dengan obyeknya.
  7. Menggunakan obyek riil dan konkrit untuk menjelaskan konsep pembelajaran.
  8. Menggunakan arah jarum jam untuk menunjukkan letak.

Komponen orientasi bagi anak gangguan penglihatan lainnya adalah landmark atau clues yang menjadi ciri khas suatu area atau seseorang. Menggunakan indoor and outdoor numbering system. Misalnya kelas Murai di Ruang 2. Sehingga anak bisa menghitung dia sudah ada di ruangan apa, jika telah tiba di kelasnya.
Selain itu measurement, pengukuran yang jelas. Tinggi, besar, kecil, kurus, dll.
Anak juga dilatihkan compas directions agar tahu arah ketika berjalan. Dan hal yang paling penting adalah self familiarization terhadap lingkungan sekelilingnya
Tujuan dari orientasi pada anak dengan Gangguan Penglihatan yaitu agar anak dapat memasuki setiap lingkungan, baik yang dikenal maupun belum dikenal, dengan aman, efisien, luwes dan mandiri.

3. Strategi Pembelajaran Anak Tunagrahita (Hambatan Intelektual)

Anak dengan hambatan intelektual bisa dalam berbagai kategori yaitu ringan IQ 55-70; sedang IQ 40-55; atau berat IQ 25-40.

Karakteristik ABK dengan Hambatan Intelektual adalah:

  1. Lambat untuk memproses pengukuran.
  2. Memiliki kemampuan adaptasi yang kurang baik/terganggu.
  3. Mungkin juga lambat dalam perkembangan fisik mereka.
  4. Seringkali memiliki permasalahan dengan kepercayaan diri.

Guru utamanya akan mengajarkan mereka untuk merawat, mengurus dan menolong diri sendiri dalam activity daily living. Kemudian melatihkan ketrampilan hidup ( life skill ). Belajar bersosialisasi dan beradaptasi.
Mengajak komunikasi agar mereka juga mampu berkomunikasi dengan baik. Serta memanfaatkan waktu luang untuk beraktivitas.

4. Strategi Pembelajaran Anak Tunadaksa.

Anak Tunadaksaadalah ABK yang mengalami gangguan sistem otot.
Kelompok gangguan ini perlu dilakukan assesment secara khusus karena bisa saja mereka anak berbakat, atau lambat/ kesulitan belajar. Bisa pula dobel diagnosis dengan tambahan ada gangguan penglihatan; gangguan pendengaran; gangguan emosi dan perilaku. Permasalahan ini diatasi dengan memperhatikan gangguan yang paling utama.

5. Autisme (autism spectrum discorder)

Autisme adalah gangguan perkembangan pada otak yang sangat komplek.
Biaanya lebih banyak anak laki-laki dibandingkan perempuan. Tidak ada satu penyebab tunggal yang menyebabkan autisme. Sehingga autisme tidak bisa diprediksi.
Seorang anak dengan autisme adalah pribadi yang unik. Sehingga guru akan berusaha memahami satu demi satu sesuai keunikannya tersebut.